Pagi Ramadan di SMA Negeri 1 Donorojo, Jepara, terasa berbeda. Di tengah kesibukan mengajar, Mufarih Ni’am, S.Pd., memilih menapaki cara lain untuk mendekati muridnya: lewat kata-kata. Bukan ceramah panjang, melainkan renungan singkat yang dikirim setiap pagi—dua atau tiga paragraf yang justru lebih mudah sampai ke hati.
Sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak Ni’am terbiasa mengoreksi tulisan. Namun Ramadan tahun ini ia justru menulis untuk dibaca. “Di era digital kata-kata menyebar cepat, maka mari kita sebarkan kata-kata baik,” ujarnya. Ia menyadari, murid hari ini hidup dalam arus informasi yang deras, sehingga pesan kebaikan harus dikemas sederhana, ringkas, tetapi tetap bermakna.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Ia melihat kebiasaan membaca siswa telah berubah. “Mereka lebih suka bacaan singkat daripada ceramah panjang,” kata Pak Ni’am. Dari situ, ia mulai rutin mengirimkan renungan harian—tentang keluarga, doa, rindu, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Tulisan-tulisan itu kemudian berkembang menjadi ruang ekspresi yang lebih luas melalui podcast sederhana bertajuk Sajak Digital.
Di ruang itu, siswa tidak hanya membaca, tetapi juga menampilkan karya mereka. Cerpen, puisi, dan refleksi personal dibacakan, lalu didiskusikan bersama. Salah satu karya tentang sosok ibu saat sahur mampu mengundang suasana haru. “Aku jadi kebayang sosok ibu, dan terenyuhnya dapat banget,” ujar salah satu siswa saat memberi tanggapan. Yang lain menambahkan, detail kecil seperti “suara sendok bergemerincing” membuat cerita terasa hidup.
Bagi Pak Ni’am, momen seperti itu lebih dari sekadar pembelajaran bahasa. Ia melihatnya sebagai proses membangun empati dan kesadaran batin. Dalam salah satu penggalan refleksi siswa tertulis, “Sekarang aku tahu ia sedang bercerita pada Tuhan tentang anak-anaknya.” Kalimat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman pengalaman spiritual yang jarang muncul dalam pembelajaran biasa.
Ramadan, dalam pendekatan ini, menjadi ruang pendidikan yang lebih luas. Tidak hanya soal ibadah, tetapi juga tentang memahami perasaan, merawat hubungan keluarga, dan menyadari makna doa. “Belajar tidak hanya di atas lantai dan di bawah atap. Kapan dan di mana saja kita bisa belajar dan mengajarkan kebaikan,” kata Pak Ni’am.
Ia juga melihat kekuatan media digital sebagai peluang, bukan ancaman. Podcast yang dibuat bersama siswa menjadi sarana dakwah yang tenang, tanpa paksaan. “Ini media untuk berdakwah diam,” ujarnya. Kata-kata yang dibacakan, dibagikan, lalu menyebar—perlahan membentuk ruang kebaikan di tengah dunia digital yang sering riuh.
Di tengah perubahan cara belajar generasi muda, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa peran guru tidak berhenti di ruang kelas. Guru hadir sebagai penulis, pendengar, sekaligus penggerak. Ramadan pun menjadi momentum untuk menguatkan kembali makna pendidikan: bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi menumbuhkan kepekaan dan karakter.
Bagi Pak Ni’am, sederhana saja. Selama kata-kata masih bisa menyentuh hati, pendidikan akan selalu menemukan jalannya.
0 Komentar