Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pelatihan Higher Order Thinking Skills Guru Melalui Kurikulum Catur Terstruktur

Semarang — Pelatihan daring bertema catur untuk melatih Higher Order Thinking Skills (HOTS) digelar pada Kamis, 31 Desember 2025, menghadirkan Teduh Sukma Wijaya, S.Pd. sebagai narasumber, dengan Dr. Saptono Nugrohadi, M.Pd., M.Si. sebagai host sekaligus moderator. Kegiatan ini menyoroti bagaimana catur dapat dipakai sebagai alat latihan berpikir tingkat tinggi melalui kurikulum yang terstruktur, bukan sekadar permainan.

Dalam sesi yang berlangsung, narasumber menjelaskan bahwa pembinaan catur yang serius membutuhkan kurikulum: mulai dari dasar permainan, pengenalan notasi, sampai strategi permainan pembukaan–tengah–akhir yang seimbang. Teduh menekankan bahwa kebiasaan mencatat langkah (notasi) menjadi pembeda antara bermain santai dan latihan yang berorientasi perkembangan, karena catatan langkah dapat dipakai untuk evaluasi dan analisis kesalahan.

Materi juga mengulas latihan berpikir efisien melalui puzzle dan mini game di platform digital seperti Lichess serta rujukan kurikulum gratis dari ChessKid/ChessKit. Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah konsep “minor promotion”—situasi saat pion promosi tidak selalu memilih bidak paling kuat (menteri), melainkan memilih yang paling efektif (misalnya kuda) demi langkah paling hemat. Contoh ini dipakai untuk menekankan bahwa kemampuan berpikir tidak hanya soal “benar”, tetapi juga soal efisiensi keputusan.

Di bagian tanya jawab, muncul pembahasan tentang kebiasaan “mengandalkan lawan lengah” dan distraksi saat bertanding. Teduh menegaskan bahwa dalam catur, pemain seharusnya mengasumsikan lawan bermain benar, sehingga analisis berangkat dari langkah paling berbahaya—bukan berharap kesalahan lawan. Ia juga menambahkan bahwa pada pertandingan resmi, tindakan mengganggu konsentrasi lawan bisa dikenai sanksi (irregularity), sehingga aspek etika dan sportivitas menjadi bagian penting yang selaras dengan pembinaan karakter.

Pelatihan diikuti peserta dari berbagai jenjang sekolah, antara lain Nisa Intan Pratiwi (SD Negeri 2 Parungkamal), Uji Syafa’atun, S.Pd.SD (SD Negeri 5 Lumbir), dan Retno Isnawahyuningsih, S.Pd.SD (SD Negeri 1 Karanganyar)

Moderator Dr. Saptono menutup kegiatan dengan penekanan bahwa pola pikir dalam catur—menganalisis situasi, merencanakan strategi, lalu mengambil keputusan—relevan untuk praktik pembelajaran di kelas lintas mata pelajaran.

Pada bagian penutup, narasumber menyampaikan harapan agar semakin banyak guru mengenalkan catur kepada siswa untuk memperkuat nalar, kreativitas, serta karakter seperti kesabaran dan sportivitas. Kegiatan diakhiri dengan pengingat pengisian daftar hadir sebagai dasar penerbitan sertifikat 38 JP, serta ucapan tahun baru menuju 2026. 

Posting Komentar

0 Komentar