Digitalisasi pembelajaran sering dipahami sebagai proses menghadirkan teknologi ke dalam kelas. Namun dalam praktiknya, perubahan yang lebih mendasar justru terjadi pada cara guru melihat dirinya sendiri.
Dalam pelatihan SLCC PGRI Jawa Tengah, Desi Putrianasari, S.Pd., M.Pd. membagikan pengalaman yang berangkat dari situasi yang tidak ideal. Mengajar di sekolah dengan keterbatasan fasilitas, ia tidak memiliki akses teknologi yang memadai. Laptop harus bergantian, jaringan tidak selalu stabil, bahkan listrik bisa menjadi kendala.
Namun dari ruang yang terbatas itu, ia menemukan cara untuk tetap bergerak.
Perjalanan itu tidak dimulai dari kemampuan teknis, melainkan dari rasa ingin tahu. Ia belajar secara mandiri, mengikuti pelatihan, dan mencoba menerapkan teknologi dalam pembelajaran. Pada awalnya, ia hanya menjadi pengguna—mengambil materi dari internet dan menggunakannya di kelas.
Seiring waktu, peran itu berubah.
Ia mulai menciptakan media pembelajaran sendiri, menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa. Salah satu contohnya adalah penggunaan game edukasi untuk membantu siswa memahami konsep pecahan yang selama ini sulit dipahami.
Perubahan ini berdampak langsung. Siswa menjadi lebih terlibat, pembelajaran terasa lebih hidup, dan umpan balik yang muncul menunjukkan bahwa mereka menikmati proses belajar.
Namun, Desi menekankan bahwa kunci perubahan bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan keberanian untuk memulai.
“Jangan nunggu bisa dulu untuk mulai. Satu langkah kecil itu bisa jadi awal perubahan besar.”
Pernyataan ini menjadi penting, terutama bagi banyak guru yang masih merasa ragu atau terbebani oleh perkembangan teknologi. Dalam banyak kasus, hambatan bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga pada rasa takut untuk mencoba.
Di sinilah peran komunitas dan pelatihan menjadi penting. Ruang belajar bersama memungkinkan guru untuk bertumbuh tanpa merasa sendirian. Pelatihan tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri.
Di sisi lain, refleksi dari Dr. Saptono Nugrohadi, M.Pd. mengingatkan bahwa arah digitalisasi tidak boleh kehilangan esensinya.
“Teknologi tidak menggantikan guru. Ia memperluas cara guru menjangkau potensi muridnya.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi bukan tujuan, melainkan alat. Ia membantu, tetapi tidak menggantikan relasi antara guru dan murid yang menjadi inti pembelajaran.
Digitalisasi pembelajaran pada akhirnya bukan tentang menjadi paling maju, tetapi tentang tetap relevan. Guru yang berani mencoba, meski dari langkah kecil, justru membuka ruang perubahan yang lebih besar. Di tengah perubahan yang terus berlangsung, satu hal tetap sama: pembelajaran selalu dimulai dari manusia.
0 Komentar