Pemanfaatan papan interaktif digital kerap dipersepsikan sebagai teknologi rumit yang hanya cocok untuk sekolah tertentu. Persepsi itu menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Pelatihan SLCC (Smart Learning and Character Center) yang digelar Jumat, 23 Januari 2026. Pelatihan ini mengajak guru melihat interactive flat panel (IFP) sebagai perangkat yang akrab dan mudah digunakan dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Dalam sesi awal, narasumber Kelik Yan Pradana menyederhanakan cara pandang peserta terhadap teknologi tersebut. Ia menyebut IFP pada dasarnya bekerja dengan prinsip yang sama seperti gawai yang sudah digunakan guru setiap hari, hanya dengan ukuran layar lebih besar dan fungsi kolaborasi yang lebih luas. Pendekatan ini dimaksudkan agar guru tidak terjebak pada rasa canggung sebelum mencoba.
Materi pelatihan selaras dengan paparan dalam modul Strategi Efektif Pemanfaatan IFP untuk Kelas Inovatif, yang menekankan bahwa papan interaktif digital memiliki prinsip kerja serupa tablet berbasis layar sentuh, sehingga mudah diadaptasi oleh guru tanpa harus memulai dari nol (lihat halaman awal materi) . Peserta diajak mengenali fungsi dasar, mengembangkan bahan ajar interaktif, hingga memanfaatkan aplikasi pendukung pembelajaran.
Moderator sekaligus host, Saptono Nugrohadi, menegaskan bahwa penyederhanaan cara pandang ini penting agar teknologi tidak menjadi penghalang strategi mengajar. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran tetap bertumpu pada perencanaan guru, bukan pada kecanggihan perangkat.
“Ketika IFP dipahami seperti perangkat yang sudah akrab, guru bisa langsung memikirkan strategi belajarnya. Teknologi ini bukan tujuan, melainkan alat untuk membuat interaksi belajar lebih hidup dan bermakna,” ujar Saptono, merujuk pada penekanan modul tentang pentingnya media pembelajaran interaktif.
Pelatihan SLCC berdurasi 38 jam pelajaran ini dirancang berjenjang, dengan penekanan pada praktik yang bisa langsung dicoba di kelas. Dengan pendekatan tersebut, IFP diposisikan bukan sebagai simbol digitalisasi, melainkan sebagai sarana sederhana untuk memperkuat interaksi, keterlibatan siswa, dan kualitas proses belajar mengajar.
0 Komentar