Ketersediaan papan interaktif digital di sekolah tidak otomatis berbanding lurus dengan pemanfaatannya di ruang kelas. Situasi inilah yang mengemuka dalam Pelatihan 38 JP: Strategi Efektif Pemanfaatan IFP untuk Kelas Inovatif yang digelar PGRI Jawa Tengah secara daring, Kamis, 22 Januari 2026.
Pelatihan ini mempertemukan ratusan guru lintas jenjang untuk membahas satu persoalan mendasar: perangkat sudah ada, tetapi strategi penggunaannya sering tertinggal. Banyak sekolah memiliki papan interaktif digital—layar sentuh berbasis Android yang terhubung internet—namun fungsinya kerap berhenti sebagai layar presentasi atau pemutar video.
Narasumber pelatihan, Kelik Yan Pradana, menempatkan isu tersebut sebagai titik awal diskusi. Ia menekankan bahwa papan interaktif digital bukan teknologi asing, melainkan perlu dipahami sebagai perpanjangan dari perangkat yang sudah akrab digunakan guru dan siswa. Tantangannya, menurut dia, terletak pada keberanian mencoba dan menyesuaikan dengan kebutuhan belajar, bukan pada spesifikasi alat.
Peran moderator sekaligus host, Saptono Nugrohadi, memberi penekanan kritis sejak awal sesi. Ia mengingatkan peserta agar tidak terjebak pada euforia perangkat baru.
“IFP atau PID itu alat pedagogik, bukan tujuan. Kalau strategi mengajarnya tidak berubah, secanggih apa pun layarnya, dampaknya ke kelas akan sangat terbatas,” ujar Saptono.
Pelatihan berjenjang 38 jam pelajaran ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada fitur papan interaktif digital—seperti menulis langsung di layar, berbagi tampilan dari laptop tanpa kabel, hingga memasang aplikasi pembelajaran—tetapi juga diajak memikirkan konteks kelas masing-masing. Diskusi diarahkan pada pertanyaan praktis: kapan alat ini relevan dipakai, dan kapan tidak.
Sorotan lain muncul dari pengakuan peserta tentang keterbatasan jumlah perangkat di sekolah. Dalam kondisi satu papan untuk banyak kelas, pelatihan ini mendorong guru menyusun strategi bersama agar alat tidak menjadi sumber rebutan, melainkan dipakai bergiliran dengan tujuan yang jelas.
Dengan pendekatan tersebut, pelatihan ini tidak menempatkan papan interaktif digital sebagai simbol kemajuan teknologi semata. Ia diposisikan sebagai cermin untuk melihat ulang praktik mengajar: sejauh mana sekolah siap mengubah cara belajar, bukan sekadar menambah perangkat.
0 Komentar